-->

Part 3 lanjutan dari kisah penjaga villa di kawasan puncak Bogor

orang baru saja datang, aku terpaksa harus bekerja sendiran, harus tinggal di villa sendirian. Eh bentar, tinggal dan kerja di Villa sendirian? Hmmm, ternyata gak juga. Kenapa begitu? Karena aku sering merasakan kalau almarhum Pak Hendra dan Istrinya masih ada di sini, masih di villa ini. Dalam artian sesungguhnya, aku merasa kalau mereka masih tinggal di sini..

 Tok, tok, tok.. "lya Pak,
" Aku menjawab ketukan di pintu kamar, masih sangat mengantuk karena kurang tidur malam sebelumnya lalu aku menjawab "lya pak ." Mengucek-ngucek mata sebentar, melirik jam dinding, sudah hampir jam lima subuh, memang sudah waktunya bangun dan sholat. Beranjak dari tempat tidur lalu aku berjalan menuju pintu untuk keluar kamar. Setelah pintu kamar sudah terbuka, aku bisa melihat isi ruang tengah, di situ Pak Hendra sedang berdiri melaksanakan sholat subuh. Seperti biasa, dia mengenakan baju koko kesayangannya dan sarung berwarna gelap lengkap dengan kopiah putih di kepala.

"Ah pak Hendra sudah mulai duluan ternyata." Begitu pikirku dalam hati. Aku langsung buru-buru ke belakang untuk berwudhu. Setelah selesai aku langsung melangkahkan kaki menuju ruang tengah, dengan niat menyusul Pak Hendra yang sudah duluan sholat. Tapi sesampainya di ruang tengah, aku terheran-heran, karena gak melihat Pak Hendra lagi di sana. Ke mana beliau? Apakah sudah selesai sholatnya?.
DÉG! Jantungku serasa berhenti..
Detik berikutnya aku terhenyak kaget, nyaris menangis ketika akhirnya tersadar, aku baru ingat kalau Pak Hendra sudah meninggal sehari sebelumnya, dan aku menghadiri pemakamanya kemarin. Kemudian, dalam sholat subuh itu, aku menahan tangis sedih. Sendirian di ruma, aku masih merasakan kehadiran almarhum. Itulah kejadian aneh yang aku alami, di hari pertama setelah Pak Hendra meninggal.

Hari-hari berikutnya, beberapa kali aku mengalami kejadian janggal dan menyeramkan. Salah satunya kejadian berikut ini: Kegiatan rutin setiap hari yang aku lakukan adalah membersihkan villa, setelah ada tamu ataupun gak ada. Aku menyapu dan mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, menyeka debu, dan lain sebagainya. Suatu hari, belum lama dari meninggalnya Pak Hendra, aku sedang membersihkan villa di lantai dua. Memang biasanya seperti itu, aku membersihkan lantai dua terlebih dahulu, setelah selesai baru membersihkan lantai satu. Posisi villa yang jauh dari jalan umum dan keramaian, menjadikannya sangat sepi walaupun di siang hari. Aku yang sedang membersihkan lantai dua, nyaris bisa mendengar suara apa aja meskipun samar.

Nah, aku langsung menghentikan kegiatan ketika ada suara dari lantai bawah. Jelas terdengar kalau salah satu keran di kamar mandi bawah tiba-tiba hidup, suara airnya kedengaran mengocor deras jatuh ke dalam ember. Seperti ada yang sedang menampung air di ember. Siapa? Ya gak tahu, karena dapat dipastikan kalau aku sedang sendirian di dalam villa ini. Beberapa saat kemudian keran itu mati, sepertinya ember sudah penuh. Aku masih diam berdiri pada posisi awal dengan tangan masih memegang sapu, terbengong-bengong coba mencerna apa yang sedang terjadi di lantai bawah. Lalu terdengar suara langkah kaki, kaki yang melangkah di atas ubin. Samar, tapi aku masih bisa mendengarnya. Itu siapa? semakin penasaran. Aku yang sedang berada dekat dengan pintu kaca, melirik ke luar.

Dari kajauhan, kelihatan kalau pintu gerbang dalam keadaan tertutup, gak ada kendaraan yang parkir juga, jadi harusnya gak ada siapa-siapa, lalu siapa yang sedang berada di bawah?. Suara-suara terus saja terdengar, kadang samar, kadang jelas, yang pasti sedang ada "kegiatan". Suara cipratan air yang disiram ke lantai, lalu suara kain pel yang bergesekan dengan ubin, semuanya aku dengar, seperti ada yang sedang mengepel lantai bawah.. Aku yang sejak tadi berdiri diam, akhirnya memberanikan diri untuk melangkah menuju tangga. Di ujung atas tangga, perlahan aku memaksa untuk mengintip ke bawah. Awalnya hanya kelihatan sebagian kecil saja, itu karena aku masih ragu, perasaan ini campur aduk antara was-was, takut, dan penasaran.

Gak ada siapa-siapa, aku gak melihat apa-apa. Lalu berpindah posisi, masih di ujung atas tangga aku mencari spot vang memuungkinkan aku bisa melihat dengan lebih jelas dan luas lagi. Tetap, aku masih belum melihat apa-apa, gak ada siapa-siapa di lantai bawah. Semakin penasaran dan semakin berani, kemudian aku melangkah menuruni beberapa anak tangga. Dari sinilah akhirnya aku melihat sesuatu, aku melihat seseorang.. Aku menahan napas, ketakutan.. Aku melihat Pak Hendra sedang mengepel lantai bawah bagian belakang, dia berjalan mundur membelakangi aku yang diam berdiri di ujung atas tangga. Dia mengenakan kemeja lengan pendek yang biasa dipakai semasa hidupnya, terus melangkah mundur perlahan sambil kedua tangan memegang gagang kain pel. Aku terus terpana menyaksikan pemandangan itu, sampai-sampai gak sadar kalau sebenarnya ada yang sedang memperhatikan aku.

lya, ternyata ada sosok lain yang sedang memperhatikan aku. Di sebelah meja makan, depan lemari, ada perempuan tua sedang berdiri diam, menghadap ke arahku. Aku yang akhirnya sadar kalau ada sosok lain selain Pak Hendra, semakin ketakutan, karena aku kenal dengan sosok perempuan itu. Aku yakin kalau dia adalah Bu Rina, istri Pak Hendro. Bu Rina berdiri diam mengenakan baju terusan berwarna gelap, rambutnya diikat sanggul. Bu Rina berdiri diam mengenakan baju terusan berwarna gelap, rambutnya diikat sanggul. Perlahan dia tersenyum ke arahku, senyum ramah, lalu aku membalas senyumnya.

Sementara Pak Hendra masih terus mengepel lantai, posisinya masih membelakangiku. Cukup lama aku diam memperhatikan, sampai akhirnya tersadar kalau dua orang itu sudah meninggal. Memaksa kaki melangkah mundur, aku kembai naik ke lantai dua. Kemudian, di teras depan aku duduk melamun, ketakutan, memikirkan kejadian seram yang baru saja aku alami.
Satu bulan setelah meninggalnya Pak Hendra, aku kedatangan tamu seorang pemuda yang usianya sama denganku. Dia bilang, dia diterima kerja di sini, membantuku menjaga dan merawat villa. Sebut saja namanya Roni, dia warga Bogor juga, sama denganku. Singkat kata, akhirnya aku gak sendirian lagi,

0 Response to "Part 3 lanjutan dari kisah penjaga villa di kawasan puncak Bogor"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel